Keberanian Saja Tidak Cukup!

Banyak motivator yang mengatakan kita “harus berani” untuk mendapakan sesuatu. Berani mengambil keputusan dan berani menerima resiko. Tapi ternyata keberanian saja tidak cukup. Ini menurut pemikiran saya (maaf bagi yang protes!).

Begini ceritanya. Saya memiliki saudara abang kandung, kebetulan mereka kembar tapi tidak identik. Usianya 4 tahun lebih tua dari saya. Kedua-duanya Cuma lulusan SMA. Meskipun mereka kembar tapi mereka memiliki selera dan peruntungan yang berbeda.

Climbing.

Yang satu telah bekerja beberapa tahun dan telah menjadi karyawan. Dan satu lagi pengangguran. Bukan karena tidak ada pekerjaan, tapi sering sekali berhenti hanya karena alasan yang kecil. Mulai dari rekan kerja yang curang, gaji yang tidak adil, sampai karena bosan di atur terus oleh atasan. Namanya buruh kecil, wajarkan?

Suatu kali abang saya yang pengangguran ini juga pernah membuka usaha burger dan roti bakar di area kampus. Usahanya tak bisa di bilang laris meskipun lumayan untuk balik modal. Karena sering mendengarkan ceramah-ceramah motivasi keinginannya untuk memperbesar usahanya begitu menggebu. Padahal usaha yang di jalaninya masih beberapa bulan. Dia begitu yakin dan berani membuka cabang lagi di tempat lain. Dia meminta temannya yang mengerjakan usahanya di tempat lain dengan syarat keuntungan di bagi dua.

Tapi naas tak bisa di hindar, baru 1 bulan berjualan grobak etalase yang baru di pakai pecah karena kecelakaan. Mulailah abang saya ini bingung karena kredit etalase itu belum lunas. Akhirnya dia bekerja hanya untuk menutupi utang. Begitu utang lunas dia pun berhenti. Seolah merasa bisnis itu tidak cocok baginnya. Tak berapa lama dia menjadi pengangguran lagi.

Banyak pengalaman kerja lain yang sudah dia lakoni, tapi semua hanya sebentar saja. Dia juga pernah merantau ke Kota Batam di ajak oleh seorang teman dan mendapat pekerjaan baik disana. Tapi seperti biasa, dia pun berhenti begitu gaji pertamanya di dapat. Alasannya masih klise, bosan di suruh-suruh!

Selain itu dia juga pernah bekerja di warnet dengan gaji yang lumayan. Tapi sebulan dia juga berhenti. Alasannya berbeda memang. Yakni, takut menanggung dosa karena clientnya suka mengakses situs porno! Hemm.. Demi itu dia rela menjadi pengangguran (lagi).

Kalau bicara pengalaman mungkin kita bisa kalah dengannya. Entah berapa puluh tempat dia pernah bekerja. Dari kerja cleaning servis sampai menjadi sales juga pernah di lakoni, tapi tetap saja tak bertahan lama. Masih kurang pekerjaan? Entahlah…

Belakangan ini dia sudah lama mengaggur, tumben tak ada pekerjaan yang di cobanya. Mungkin karena sudah kehabisan akal. Saya pikir memang dianya yang malas bekerja. Dia tak suka bekerja menjadi bawahan. Tak suka bekerja di suruh-suruh. Bukankah hal semacam ini menjadi suatu hal yang biasa di lingkungan kerja?

Suatu hari, dia meminjam sepeda motor milik abang saya yang satu lagi, dan entah bagaimana sepeda motor itu rusak di buatnya. Tentu saja abang saya yang memiliki sepeda motor itu menuntut, tapi karena dia tak punya uang akhirnya mereka bertengkar. Kemudian esok paginya dia menghilang dari rumah. Mama saya khawatir karena dia pergi tidak pamitan. Hendak di telpon juga tidak bisa karena handphone nya sudah di jual. Tak ada kabar.

Selang seminggu, saya mendapat sms katanya dia sudah di Jakarta. Wow.. begitu pikir saya. Dari medan merantau ke Jakarta. Karena dari dulu saya juga pingin sekali bisa ke Jakarta. Meskipun kata orang Jakarta itu sumpek, padat, macat, tapi saya masih penasaran seperti apa Jakarta itu.

Pasti asyik abang saya bisa kerja di Jakarta. Tapi kenyataannya berbeda. Dia cerita sudah tiga hari tidak makan karena tidak ada uang. Uang jual handphone nya habis hanya untuk ongkos naik kapal ke Jakarta. Selama 3 hari di Jakarta cari kerja di sana sini tidak dapat. Akhirnya dia harus rela jadi gelandangan, menikmati kelaparan di kota orang.

Akhir cerita, dia minta kirim uang ke dia untuk ongkos pulangnya. Bagaimana cara mengirimnya sedang dia tidak punya kartu ATM? Tak ada cara lain, dia harus berani pinjam ATM orang lain (asing) untuk di isi dan tarik tunai. Hemm… luar biasa!!

Melihat cerita di atas, anda pasti kagum dengan keberaniannya. Tapi rezeki memang tidak bisa di paksa. Beberapa hari di Jakarta tidak mendapat 1 pekerjaan pun untuknya. Akhirnya kantong bolong, perut kosong. Pulang kampung bawa apa? Oleh-oleh? Dari hongkong!!

Satu pelajaran yang bisa saya ambil, adalah bahwa keberanian saja tidak cukup! Harus ada rasa ikhlas menerima keadaan dan bersyukur dengan apa yang ada. Takut menderita dari pekerjaan malah akan menjauhkan kita dari kesuksesan. Bukankah kesuksesan itu hasil dari jerih payah dan keringat kita bertahun-tahun? Kalau ketemu masalah saja kita langsung mundur dan beralih ke pekerjaan baru, kita tak akan pernah berakhir dengan kesuksesan.

Masalah itu ibarat ujian semester. Semakin sering kita menyelesaikan ujian semakin tinggi tingkat kualitas diri kita. Dan tentu saja semakin dekat dengan kesuksesan. Karena dunia ini adalah universitas kehidupan, so jadilah Sarjana Kesuksesan dengan predikat Cumload.

Salam Sukses!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *